Sendang Si Bobor
Di sekitar Masjid Jami' Diponegoro ada tujuh sendang dan dua pohon beringin yang sangat lebat,
Dua sendang berada di bawah pohon Beringin sebelah selatan masjid yang berjajar dan saling
berdekatan (sekarang tinggal satu sendang karena yang satunya sudah ditutup). Air sendang itu sangat bening sekali. Di sebelah utara Masjid ada dua sendang, yang juga saling berjajar juga. Namun air dari kedua sendang itu airnya berwarna putih kelihatan seperti keruh, tetapi bening seperti santan bening. Sedangkan tiga sendang lainnya berada di sebelah timur. Air dari ketiga sendang itu juga sangat bening.
Di musim kemarau air-air dari sendang-sendang itu tidak pernah surut. Termasuk dua sendang yang airnya kelihatan seperti santan. Maka oleh Pangeran Diponegoro air di dua sendang itu, disebut bobor karena bening dan terasa sangat segar seperti sayur bobor. Maka sendang itu dinamai Sendang Bobor. Bobor juga untuk menamai tempat itu, sehingga menjadi Padukuhan Bobor. Sendang yang berada di sebelah utara masjid dulunyasering digunakan oleh pasukan Pangeran Diponegoro untuk berwudhu dan mandi, sedangkan Sendang yang berada disebelah selatan digunakan untuk minum kuda dari Pangeran Diponegoro dan Laskarnya. Sehingga sampai sekarang sendang yg sebelah selatan sering digunakan oleh para pecinta Kesenian Jathilan untuk “Ngombekke” jaran nya. Karena diyakini dapat membuat laris grup jathilannya. Dan juga dapat menyembuhkan pemain jathilan yang “ndadi” atau kesurupan. Kegiatan Ngombekke Jaran tersebut biasa diselenggarakan pada Malam 1 Suro
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin