Sendang Gege
Sendang Gege yang masuk wilayah Padukuhan Karanganjir merupakan salah satu situs budaya yang cukup dikenal di wilayah Sumberarum. Sendang Gege juga populer disebut dengan sebutan Kali Gege
sudah jauh sebelum Kalurahan Sumberarum terbentuk. Sesuai namanya Kali Gege, airnya diyakini bisa menjadi sarana penyembuhan, terutama bagi anak-anak yang mengalami demam, cangkrangan (cacar air), dan diare dan sejenisnya. Anak-anak yang menderita cacar air,
batuk-batuk dan demam tinggi, biasanya dimandikan dengan air sendang pada pagi harisebelum matahari terbit.
Mbok Tukem, anak pertama Mbah Kromo Joyo (kuncen Sendang Gege) menuturkan, selain warga Bandelan, Karanganjir dan sekitarnya,acap kali datang juga warga dari luar Sumberarum untuk tertentu. keperluan-keperluan Secara kasat mata, Sendang Gege berupa sumber air berbentuk segi empat yang dulunya terbagi
menjadi dua dengan pintu masuk di sisi selatan. Di bagian depan dan samping dibangun tembok
setinggi dada orang dewasa. Sedangkan di bibir sendang juga ada batu besar untuk tempat mandi
ataupun sekadar pijakan menimba air. Saat itu, keberadaan air sendang tak pernah habis dan cukup jernih.
Selain sumber air, di dekat Kali Gege juga terdapat pohon jaran (Lannea Coromandelica) atau
jaranan serta pohon jangkang, atau kepuh (Stercullia Foetida), yang disebut sebagai sriwit, atau
pohon yang memiliki makna khusus. Pohon jaranan di Sendang Gege hingga kini masih hidup. Warga
sekitar meyakini, balita yang terlambat berjalan, biasanya dimandikan serta disabet-sabet dengan
daun jaran dengan harapan bisa lekas berjalan.
Sedangkan pohon jangkang yang berada di sisi barat sumber air, sudah tidak kelihatan. Ada banyak cerita mistis yang menggambarkan ketidakrelaan bahwa tempat yang dulunya dijadikan area memberi minum kuda itu dibabat habis. Menurut Mbok Tukem, dalam naluri orang Jawa saat itu Sendang Gege merupakan satu rangkaian dengan Sendang Bobor. Dari dua sendang itu, diyakini Sendang Bobor lebih tua daripada Sendang Gege. Sendang Gege semula berbentuk bundar, layaknya tempat munculnya mata air alami. Namun kemudian warga bergotong-royong
untuk membentuk sendang layaknya kolam yang berbentuk segi empat. Keberadaan sendang, pohon jangkang, dan pohon jaranan juga diyakini sebagai satu kesatuan. Konon lelembut berupa kuda-kuda penghuni Sendang Gege berkandang di pojok Dusun Bandelan, sementara pohon Jangkang sebagai tempat pangonan. Sedangkan sendang sebagai tempat minum.
Karena keyakinan itulah, keberadaan Sendang Gege selalu menjadi bagian dari rangkaian tradisi
ngombekke jaran untuk grup-grup jathilan, bersamaan dengan prosesi ngombekke jaran di SendangBobor.
Ada juga cerita menarik di balik sejarah Sendang Gege ini. Menurut Mbok Tukem, ketika Hari
Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, warga Kalurahan Jitar Dukuh dan Kalurahan Sejati Pasar
mengadakan perayaan Hari Kemerdekaan dengan pentas jatihilan di wilayah Ngersak, Sejati Pasar.
Saat itu grup jathilan dari Jerukan juga sempat diombekke di Sendang Gege sebelum pentas.
Ada cerita lain yang seakan-akan tak masuk akal. Dikisahkan Mbok Tukem, pada suatu ketika ada
warga Bandelan yang tertarik menguras air Sendang Gege untuk mengambil ikan-ikan yang ada di
sendang. Nyatanya, tak satu pun ikan didapat meski airnya telah dikuras habis. “Aneh sekali, karena
ketika bapak saya (Mbah Kromo Joyo) yang menguras, ikan-ikan itu seperti tak ada habis-habisnya,”
ungkap Mbok Tukem.
Alkisah, suatu ketika warga sekitar Karanganjir bermaksud mengadakan peresmian pembuatan
benteng sendang, dengan menggelar pentas karawitan. Kala itu musim kemarau panjang. Namun
tiba-tiba hujan turun sangat lebat.
Saat ini keberadaan Sendang Gege sudah menyempit. Air juga sudah dangkal dan kerap mengering
ketika kemarau panjang tiba. Meski demikian, untuk keperluan acara ngombekke jaran, grup jathilan
tidak datang ke lokasi ini, tetapi airnya yang diambil untuk disandingkan dengan air sendang yang
lain dalam tradisi itu
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin