Sendang Kali Rondho Sejati Desa
Sendang Kali Rondho terletak di dusun Sejati Desa. Sendang ini hingga sekarang airnya sering
dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun dibalik
kemanfaatan tersebut, Sendang Kalirondho menyimpan mitos yang terwariskan secara turun
temurun. Cerita rakyat atau mitos tersebut pernah dituturkan oleh Sutrisno Sonto Prayitno, yang
pernah menjabat Kabag Kesra Kalurahan Sumberarum. Menurut Sutrisno dalam penuturannya, saat dimulainya perpindahan pengaruh agama Hindu ke Islam, Sultan Fatah dari Demak ( 1455 – 1518) mengutus Syekh Maulana Magribi untuk berdakwah di Jawa selatan. Saat menjalankan misi
dakwahnya itu Syekh Maulana Magribi mendapatkan laporan dari warga sekitar karena adanya seorang wanita yang bernama Nyai Warikuning yang selalu mencari pemuda yang gagah dan perkasa untuk dijadikan pemuas nafsu.
Setiap pemuda yang berhasil didapatkannya disandera selama 35 hari untuk memenuhi hasrat
biologis Nyai Warikuning. Setelahnya pada saat malam bulan purnama pemuda tersebut dibunuh,
kemudian jantung dan hatinya digoreng untuk dijadikan camilan sambil minum tuak.Â
Warikuning yakin dengan makan jantung dan hati manusia itu akan menambah kesaktiannya, awet
muda dan menambah kecantikannya. Oleh karena itu Syekh Maulana Magribi mendatangi
Warikuning dan berhasil menasihati. Ia memberi kesempatan Nyai Warikuning untuk bertobat dan
memperbaiki tabiatnya. Warikuning pun menyanggupinya. Kemudian Warikuning bersama lima anak buahnya di suruh ke barat mengikuti pantai selatan akan tetapi sesampainya di muara Sungai Progo mereka menggambil arah ke utara menyusuri sungai Progo hingga sampai ke dusun Sejati Desa. Disitu Warikuning menemui kepala dusun dan wakilnya yang bernama Lowahrejo dan Winongkardi. Mereka meminta dibangunkan rumah besar yang terbuat dari bambu wulung yang dinamakan srumbung. Lowahrejo dan Winongkardi pun bersedia membangun rumah tersebut hingga selesai. Warikuningbertanya berapa upah yang harus dibayarkannya untuk membiayai rumah srumbung itu.
Lowahrejo dan Winongkardi lebih tertarik pada kecantikan dan kemolekan Warikuning. Keduanya
secara bergantian meminta dilayani Nyai Warikuning di tepian Sungai Progo. Keduanya mengalami
nasib yang sama, yakni meninggal seusai melakukan persetubuhan dengan Nyai Warikuning dengan gejala yang sama pula yakni tubuhnya menghitam seperti terbakar. Setelah peristiwa itu Warikuning diangkat menjadi kepala dusun karena dianggap sangat sakti oleh warga setempat.Â
Saat Warikuning menjabat menjadi kepala dusun, lima bawahanya disuruh untuk menjarah emas,
beras, kambing dan sebagainya di luar dusun tersebut. Setiap malam bulan purnama sekitar pukul
21.00 warga dikumpulkan di dekat sendang, yang kini disebut sebagai Sendang Kalirondho  untuk
pesta makan bersama dengan menyembelih kambing hasil jarahan. Pesta itu juga dimeriahkan dengan gejog lesung. Setelah acara tersebut Warikuning mandi dengan air sendang kemudian ditandu kembali
ke kediaman nya untuk meneruskan ritual dengan pemuda pilihanya. Konon hal itu terjadi sampai 8
purnama, dan setiap pemuda seusai memuaskannya dibunuh dan mayatnya di buang di sungai Progo. Pada suatu masa, Raden Tanjung Seto keturunan Majapahit berguru pada Syekh Maulana Magribi.
Setelah kesaktiannya dianggap cukup, ia diperintahkan untuk mencari Warikuning apakah dia sudah meninggalkan tabiat buruknya atau belum. Jika sudah berubah biarkan dia hidup, tapi jika belum berubah Raden Tanjung Seto diperintahkan untuk membunuhnya. Melalui perjuangan yang berat karena harus lebih dulu mengalahkan lima anak buah Warikuning. Ketika itu mereka sedang
membawa pemuda bernama Raden Sundoro yang akan dipersembahkan kepada Warikuning sebagai pemuas nafsu. Dengan dalih sebagai pengganti Sundoro, Raden Tanjung Seto berhasil berhadapan dengan Warikuning. Ritual seks yang direncanakan itu pun berubah menjadi adu kesaktian antara Warikuning dengan Raden Tanjung Seto. Warikuning berhasil ditaklukkan, dan wujud Warikuning berubah menjadi kepulan asap hitam pekat yang berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam kendhi pretala.
Tidak pula ditemukan kedalaman cerita apakah dalam persetubuhan yang berganti-ganti lelaki itu
menghasilkan anak atau tidak, tetapi cerita rakyat atau mitos itu menjadi sebuah kekayaan budaya
yang ada di Sumberarum yang patut dicatat.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin